Pilih menu :
  Query Data | Basis Data
 

Selamat Datang di situs Web Jogjabudaya. Berikut adalah definisi operasional yang digunakan dalam situs Web ini.
Adat dan Tradisi
 

Adat merupakan rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu berdasarkan adat istiadat, agama dan kepercayaan yang diyakini oleh suatu kelompok masyarakat. Makna dari pelaksanaan kegiatan adat dan tradisi pada umumnya adalah ungkapan permohonan atau kesyukuran atas suatu peristiwa yang dialami oleh seseorang, keluarga, atau sekelompok masyarakat. Di dalam pelaksanaannya, kegiatan upacara adat dan tradisi selalu dikaitkan dengan maksud tertentu, waktu, tempat, perlengkapan, dan partisipan yang terlibat.

  • Upacara tradisi (daur hidup) merupakan serangkaian kegiatan upacara untuk memohon keselamatan atau ungkapan syukur atas suatu tahapan atau pencapaian dalam kehidupan seseorang. Kegiatan upacara dilaksanakan mulai dari tahap manusia di dalam kandungan, kelahiran, anak-anak remaja, perkawinan, sampai dengan kembali pada Sang Pencipta.
  • Upacara adat Penekanan jenis upacara ini dikaitkan dengan pengerahan partisipan dalam jumah yang besar, seperti lingkup dusun atau kelurahan/desa dan biasanya sifatnya merupakan hajat bersama masyarakat memohon keselamatan, kesejahteraan dan ungkapan rasa syukur. Kegiatan upacara ini biasanya terkait dengan kegiatan masyarakat dalam upaya pengelolaan lingkungan alam.
  • Kelompok Penghayat Kepercayaan merupakan suatu lembaga yang menampung aktivitas kegiatan ibadah suatu aliran kepercayaan tertentu. Penganut kepercayaan biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah"). Ajaran aliran kepercayaan biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep "keseimbangan" dan biasanya anggota tidak melarang mempraktekkan ajaran agama lain. Kelompok ini lah yang biasanya tetap melaksanakan kegiatan ritual adat dan tradisi di suatu lingkungan masyarakat.

 

 
Busana dan Sanggar Rias
Kekhasan masyarakat Yogyakarta salah satunya dapat dilihat dari jenis pakaian tradisional yang sampai saat ini masih dapat ditemui dalam kehidupan keseharian maupun dalam acara-acara tertentu. Lingkup data potensi seni budaya yang terkait dengan busana dibatasi pada jenis pakaian khas yang umumnya diakui sebagai warisan budaya Yogyakarta. Dalam khasanah kebusanaan, terdapat motif batik dan motif lurik yang memiliki kandungan makna yang sangat kaya. Penggunaan jenis-jenis pakaian tradisional khas Yogyakarta pada umumnya sangat terkait dengan keberadaan sanggar rias yang memberikan pelayanan dalam hal merias atau menata busana pada acara- acara tertentu. Dengan demikian, keberadaan sanggar rias dapat mendukung kelestarian dan keberadaan pakaian tradisional Jawa umumnya dan Yogyakarta khususnya.

 

 
Desa Budaya
Berdasarkan hasil kajian tahun 2006, Desa budaya diartikan sebagai "wahana sekelompok manusia yang melakukan aktivitas budaya yang mengekspresikan sistem kepercayaan (religi), sistem kesenian, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, sistem komunikasi, sistem sosial, dan sistem lingkungan, tata ruang, dan arsitektur dengan mengaktualisasikan kekayaan potensinya dan menkonservasinya dengan saksama atas kekayaan budaya yang dimilikinya, terutama yang tampak pada adat dan tradisi, seni pertunjukan, kerajinan, dan tata ruang dan arsitektural."

Di DI Yogyakarta terdapat 32 desa yang memiliki predikat sebagai Desa Bina Budaya berdasarkan SK Gubernur No. 325/KPTS/1995. Desa Bina Budaya (Desa Budaya) tersebut diharapkan dapat menjadi wahana bagi upaya pembinaan, pengembangan, dan pelestarian segala potensi budaya yang ada di desa.

 

 
 
-